Explore Bangkok

 

with: Wahidah Oktavia

as you can read in Hijabella Magazine 15th Edition

 

The World Is A Book And Those Who Do Not Travel Read Only A Page

Destinasi travelista kali ini adalah Bangkok, dear HIjabellove. Kami mendarat di Bandara Don Mueang pukul 12 siang dan telah dijemput oleh tour guide, seorang pemuda asli Thailand yang akrab dipanggil Bas berusia 24 tahun dan hebatnya dia fasih sekali berbahasa Indonesia. Kami diantar menuju hotel di seputaran Ramkhamhaeng Street bernama All Season Hotel Huamark. Tidak ada perbedaan waktu antara Indonesia dan Thailand, jadi kamu tidak usah menyesuaikan jam atau khawatir jetlag, hehe.

 

Asiatique

 

Istirahat, mandi, dan sholat lalu pukul 2 siang kami berangkat ke destinasi pertama yakni Asiatique. Ini destinasi yang terbilang cukup baru di Bangkok. Di kawasan ini terdapat Mekhong Flyers, Calypso Show, Muay Thai Live Show (tentatif), Food Court, dan Night Market. Letaknya di pinggir sungai Chao Praya, cukup romantis kalau menjelang sore dan malam hari. Karena kami datang bukan saat peak season jadi kondusif sekali untuk foto-foto karena tidak terlalu ramai pengunjung. Kami naik Mekhong Flyers pukul 7 malam dan suasana sudah cukup bagus untuk menikmati indahnya lampu kota dari atas. Kalau sudah laper, disini ada makanan halal di salah satu resto India di food court, jadi ga perlu khawatir.

Night Market Bangkok adalah salah satu yang ngga boleh dilewatkan. Memang sih, Night Market disini ngga jauh beda sama di Indonesia, yang penting yang dijual bukan barang curian, black market atau barang second yaa. Kalau kamu punya hobi dan kemampuan di bidang tawar menawar kamu bisa puas-puasin deh nawar disini. Banyak pilihan Night Market di setiap sudut kota Bangkok, di sepanjang jalan atau di spot-spot tertentu, bahkan ada yang buka di hari tertentu, misalnya Chatuchak Night Market yang cuma ada saat weekend. Produk fashion seperti baju, tas, sepatu, aksesoris dan beragam oleh-oleh biasanya ada lengkap di setiap Night Market. Kami kemarin sempat datang di dua Night Market, yang berada di kawasan Asiatique dan satu lagi di sepanjang jalan Pratunam arah menuju Platinum Mall.

 

Wat Pho

 

Sebagai umat muslim yang baik, toleransi terhadap budaya atau agama lain juga perlu ya. Bukan untuk mengikuti ajaran agamanya tapi untuk sekedar mengetahui sehingga timbul sikap toleransi tersebut. Hari kedua kami ke kawasan Wat Pho atau Wat Phra ini berada di Distrik Rattanakosin dan berdekatan dengan Grand Palace. Wat Pho dikenal juga dengan nama Kuil Budha Berbaring berlapis emas yang panjangnya 46m dan tinggi 15m. Sebenarnya objek wisata ini juga ada di Indonesia, yakni di wilayah Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, hanya saja letaknya tersembunyi dan kurang diekspos. Di kawasan ini ada juga Emerald Budha, The Contorted Hermit Mont, Outdoor Museum, Phra Ubosot, Phra Kanparian, Sala Rai, Phra Chedi Rai, dan masih banyak lagi.

 

Kami melihat cara dan tradisi berdoa setiap agama memang bisa berbeda, tapi intinya sama. Semua umat beragama berdoa kepadaTuhan yang ia percaya dengan segenap hati mereka dan percaya bahwa Tuhan mereka bisa mengabulkan dan memberikan mereka yang terbaik. Tempat berdoa dan beribadah juga bisa saja berbeda tapi yang pasti setiap agama punya rumah Tuhan, tempat suci yang wajib kita hormati, seperti masjid bagi kita dan vihara bagi umat Buddha di Thailand ini. Terkutip dalam sebuah ayat dalam Al Quran, “Lakum diinukum waliyadiin” yang artinya “Bagimu agamamu dan bagiku agamaku”.

 

Wat Arun

 

Wat Arun famous dengan julukan Temple of Dawn tapi eksotisme bangunan ini lebih kece kalau dinikmati saat senja sampai malam dengan lampu-lampunya. Letaknya di distrik Yai, Bangkok, hulu Sungai Chao Praya, karenanyalah kami harus menaiki kapal menyebrangi sungai walaupun hanya 5 menit untuk sampai kesini.

 

Disini kami memang salah fokus hehe, karena kata tour guide kami belanja oleh-oleh disini paling murah dibandingkan kawasan wisata lainnya atau bahkan di MBK dan Platinum. Jadilah kami cuma narsis seadanya dan lebih banyak porsi untuk belanja cinderamata. Benar saja, harga disini lebih murah sampai 100 baht tiap itemnya. Wow! Oia, hampir semua penjual disini bisa bahasa Indonesia lho (walaupun terbatas untuk kosakata dagang saja). Ini sih katanya karena turis yang suka belanja dan paling banyak dateng ke kawasan tersebut adalah orang Indonesia jadi mereka lama-lama akrab dengan bahasa Indonesia. Hmmm, ternyata hobi belanja masyarakat kita sudah terkenal kemana-mana. Kami sempat mencoba pakaian tradisional kerajaan ala wanita Thailand juga lho. Orang Thailand suka warna cerah dengan ornamen berwarna gold.

 

Garden palace dan Throne Hall

 

 

Salah satu spot favorit kami adalah The Ananta Samakhom Throne Hall. Tempat ini adalah istana kerajaan Thailand zaman dahulu yang saat ini telah diubah menjadi museum dan dibuka untuk umum. Nuansa istana berarsitektur dan didesain mirip seperti Gedung Putih ala Amerika ini selesai dibangun tahun 1915 dan memang indah. Kalau melihat nuansa kota Bangkok yang wisatanya penuh dengan Wat alias Vihara, melihat Throne Hall seperti melihat sisi lain dari Thailand. Sayang kami cuma sebentar di sini.

 

Melanjutkan perjalanan menuju Grand Palace yakni kompleks bangunan istana di bangkok yang fungsinya dijadikan tempat tinggal resmi Raja-Raja Thailand dari abad ke-18. Mulai dibangun tahun 1782 pada pemerintahan Raja rama I, walaupun begitu istana ini tidak ditempati oleh raja yang sekarang yakni Raja Bhumibol Aduljadej melainkan di Istana Chitralada. Namun Grand Palace selalu dijadikan venue menggelar upacara dan ritual kerajaan seperti pemakaman, pernikahan, jamuan kerajaan, penobatan, dll.

 

Jawa Mosque

 

Eits, Hijabellove tidak boleh lupa sholatnya ya kemanapun kita pergi. Allah SWT telah memberikan banyak kemudahan kepada umatnya yang melakukan perjalanan kok. Mampir yuk ke masjid di Bangkok untuk sholat dan ternyata ada “Kampung Jawa” di Bangkok yang didiami sekitar 500 kepala keluarga lho. Tepatnya di Soi Rome Nam Khaeng 5, Sathorn, Bangrak. Terdapat sebuah tempat ibadah umat muslim bernama Masjid Jawa yang didesain dengan gaya arsitektur Demak. Memang letaknya agak ke dalam gang yang kira-kira hanya cukup untuk satu mobil dan kalau kesini pasti ga kerasa kalau sedang di luar Indonesia. Masjid ini punya bedug berumur kurang lebih 1 abad lho katanya dan warga sekitar juga rajin bikin pengajian rutin di masjid Jawa ini.

 

Madame Tussaud

 

Hari terakhir ini kita awali hari menuju ke sebuah wisata narsis yuk! Tempat replika patung-patung lilin orang terkenal sampai politikus dan negarawan ini bernama Madame Tussaud. Kenapa disebut wisata narsis? Yang pasti disini kta bisa narsis sepuasnya foto-foto sama tokoh favorit atau artis-artis. Saat itu kami butuh waktu 3 jam lho untuk selesai foto dengan semua patung (iya, semuanya) yang ada di sana. Dari hotel perjalanan kurang lebih 1 jam karena kita berangkat pukul 10 pagi dan saat itu macetnya Bangkok sama seperti di Jakarta. Letak Madame Tussaud berada di wilayah sentral Bangkok yakni tepatnya di Mall lantai 6. Harga tiket masuknya kalau beli on the spot terkadang lebih mahal dari harga travel atau beli online, lumayan lho bisa separuh harga sendiri, bisa buat makan atau belanja, hihihi.

 

MBK dan/atau Platinum Mall

 

Kenapa ditulis dan/atau? Karena memutari satu mall saja akan menghabiskan waktu kamu berjam-jam dan tanpa sadar kamu kecapekan dan stres sendiri milih berbagai macam barang disana. Ini sih kisah nyata, dear Hijabellove. Kami rasanya masih pengen terus memutari seluruh mall karena penasaran dengan setiap barang yang ditawarkan. Harganya juga bisa setengah harga dari yang di Indonesia lho. Kami sempatkan datang ke dua mall ini karena penasaran. Guide tour kami juga tidak keberatan mengantarkan pilihan custom kami tersebut. Koleksi di Platinum Mall saat ini lebih banyak disukai oleh anak-anak muda karena lebih up to date juga lebih banyak dijadikan destinasi grosiran, mirip Mangga Dua atau Tanah Abang di Indonesia gitu deh. Tapi banyak toko yang mulai tutup pukul 7 malam, jadi maksimalkan sebelum semua tutup :p

 

Seafood

 

Ini dia yang tidak boleh kamu lewatkan di Thailand, wisata kuliner! Memang bagi non muslim, variasi makanan disini sangat memanjakan lidah dan mata, tapi untuk yang muslim pilihannya mungkin ga terlalu banyak, tapi satu yang wajib kamu coba di negara ini yakni, Seafood!!! Iya, Thailand memang terkenal dengan hasi lautnya, dan tomyam bisa langsung kamu pesan tanpa perlu pikir panjang. Rasa tomyam di sini lebih tasty and delicious. Entah karena pengaruh mindset aja atau memang bumbu dan takaran sajian seafood disini lebih mantap dan dengan size lebih extra large dari umumnya yang ada di negara kita. Faktanya, salah satu tim Hijabella ada yang tadinya ga suka sama tomyam, eh tapi dia bisa abis 3 mangkuk tomyam dan baru sadar kalau itu adalah tomyam setelah habis, hihihi :p

 

Thailand punya kesamaan dengan wisata di Indonesia, yakni tidak akan habis dikunjungi dalam waktu sebentar. Banyak spot yang ingin dieskplor dan dikunjungi lagi dan lagi. Wisata Thailand selalu beradaptasi sehingga ketika kembali kesini satu atau dua tahun lagi mungkin ada satu destinasi baru atau renovasi destinasi yang sudah ada. Keep travelling around the world, dear Hijabellove!

 

For Your Info :

  • Buah pomegranate alias delima banyak dijual di sepanjang jalan sebelum masuk ke Wat Arun dan Wat Pho. Masih segar, besar dan menggiurkan sekali. Selain dijual langsung buahnya, bisa juga beli yang sudah dalam bentuk jus segar. Coba deh!
pomegranate 40 baht enak banget, hehe

pomegranate 40 baht enak banget, hehe

  • Kalau tiba-tiba kehabisan uang karena kala belanja oleh-oleh, kamu bisa tarik tunai uang baht melalui jaringan ATM disana dengan biaya charge 180 baht, jadi mending disesuaikan dulu kebutuhannya sebelum ambil uang.
  • Naik Tuk-Tuk (mirip bajaj kalau di Indonesia) memutari beberapa tempat wisata di pusat kota Bangkok biasanya ditawar dengan harga 60 baht, cukup murah, tapi kamu akan diajak ke satu atau dua tempat pusat oleh-oleh yang sudah rekanan dengan mereka, jangan khawatir meski begitu mereka tidak mengharuskan untuk membeli kok. Jadi, ikuti saja tracknya J
  • Di Wat Pho, tiket masuknya sudah termasuk welcoming drink lho dan kamu bisa refill minum juga jadi ga usah beli dari luar deh.
  • Banyak warga Thailand yang tidak bisa berbahasa Inggris, jadi usahakan kamu bisa melafalkan beberapa kata penting dalam bahasa Thailand yang dibutuhkan selama kamu disana. Kalau tidak, alamat bahasa tubuh deh yang bakal keluar, hehe.
  • Backpacker ke Bangkok memang asik, tapi buat kamu yang tidak bisa bahasa Thailand dan bahasa Inggris-pun masih terbata-bata, lebih baik ikut jasa travel karena semua itinerary, tiket masuk, akomodasi serta transportasi kamu sudah dijamin. Salah satu paket wisata yang kami rekomendasikan salah satunya bisa kamu lihat di www.pengenliburan.com ya dear, Hijabellove J

 

Price Info :

  • Mekhong Flyers : 250 baht/orang
  • Calypso Show + Dinner : 1200 baht/orang
  • Muay Thai Live Show : 500 baht/orang
  • Sewa Van (untuk 10 orang maksimal, selama 12 jam) : 800-1000 baht
  • Entrance Wat Pho : 100 baht/orang
  • Garden Palace : 400 baht/orang
  • Madam Tussaud : 1000 baht/orang
  • Entrance Wat Arun : 50 baht/orang

(Price info ini buat guideline kamu yang pergi tanpa travel)

 

 

 

 

 

Advertisements

Travelista : Singapore

Ibn Batuta berkata “Travelling – It leaves you speechless, then turns you into a storyteller” yang bisa diartikan dengan sangat simple yakni “Yuk, travelling, Hijabellove”

Buat yang belum pernah keluar negeri, Singapura bisa jadi salah satu alternative destination buat para beginner traveller nih. Bisa dikatakan Singapura adalah negara di Asia Tenggara yang maju jadi tidak perlu khawatir tersesat atau jadi korban kriminal deh, hehe. Kalau setelah jalan-jalan dan akhirnya tidak tahu jalan pulang, kamu bisa andalkan MRT atau bis karena public transportation disana sudah tertata apik dan terjangkau ke seluruh penjuru kota. Selain tidak jauh dari Indonesia, yakni sekitar 1,5-2 jam dari Jakarta via udara, tempat wisata disana juga banyak dan aksesnya mudah dijangkau. Visa diurus saat kedatangan dan hotel budget juga banyak bahkan untuk para backpacker ada pula yang dormitory. Kali ini, ikuti perjalanan singkat di Singapura ala Via, salah satu tim Hijabella yang mengunjungi Singapura bulan lalu yuk.

 

TIPS :

  1. Buat yang mau backpacker-an dan memilih stay di dormitory hotel pastikan kamu pilih yang female only ya, karena 1 kamar terdiri dari 5-10 orang foreigner.
  2. Banyakin ngobrol dengan roomates kamu siapa tau bisa punya agenda ke tempat yang sama jadi bisa barengan deh, selain bisa nambah teman kamu juga bisa hemat karena bisa patungan, hehe.

Wisata Muslim

Di setiap travelling, sebagai muslim saya selalu tertarik dengan masyarakat sesama muslim yang ada di wilayah tersebut. Di Singapura, ada sebuah tempat wisata bernama Kampong Glam yang jadi representasi kaum Muslim disana. Kawasan historis ini menjadi area konservasi dan menarik sekali karena sepanjang jalan melalui Bussorah, Baghdad, dan Kandahar Street deretan rukonya dicat warna warni ceria, perpaduan ekletik bangunan berupa toko-toko kuno maupun modern dan biasanya dijadikan spot untuk foto-foto. Dari dulu wilayah ini familiar sekali sebagai Kampung Arab yang menjual kebutuhan religi komunitas Muslim.

 

Tidak jauh dari situ, tepatnya di Muscat Street ada masjid yang wajib dikunjungi di Sigapura yakni Sultan Mosque. Katanya dibangun pertama kali tahun 1826 dan kamu wajib memakai pakaian yang sopan dan menutup aurat untuk perempuan jika ingin masuk ke dalamnya ya. Di dalam masjid ini ada sebuah karpet yang disumbang oleh pangeran dari Arab Saudi. Istirahat sejenak sambil menantikan waktu shalat dhuhur atau ashar disini nyaman sekali lho.

 

TIPS :

  1. Menuju Kampong Glam gampang banget, kamu tinggal naik MRT dan turun stasiun Bugis.
  2. Di wilayah ini ada Bugis Junction dan Bugis Street yang ramai dikunjungi untuk beli oleh-oleh, jadi bisa sekalian hunting dan belanja deh kalau kesini.
  3. Ada salah satu oleh-oleh bernama ‘rehal’ yakni peyangga buku yang khusus dipakai untuk Al Quran yang bisa kamu beli di ujung Arab Street.

 

Garden by the Bay

            Nature Meets Technology. Sepertinya itu ungkapan yang tepat untuk spot wisata satu ini. Betapa tidak, Singapura memang tak punya wilayah dan sumber daya alam yang luas namun tempat ini disulap jadi lahan terbuka hijau raksasa yang sarat teknologi. Sebut saja Flower Dome, Cloud Forest, dan Supertree. Luasnya sekitar 101 hektar dan seperti namanya, kita bisa menikmati view skycrapper di tengah kota Singapura dari pinggir teluk. Ada tiga area disini yakni Bay South, Bay East, dan Bay Central.

 

Di Flower Dome kamu bisa menemukan berbagai jenis varietas bunga –bahkan yang langka sekalipun, yang dikumpulkan dari berbagai penjuru dunia oleh ahli botani. Terkagum dengan kubah raksasa tempat ratusan bunga ini ditanam seolah berada dalam taman asli. Kamu bisa puas foto-foto disini karena banyak spot cantik bersama bunga-bunga yang subhanallah indahnya. Berbeda dengan Cloud Forest. Disini kamu akan tercengang saat masuk entrance gate-nya karena kita akan disambut oleh air terjun buatan yang tinggi dan deras. Ya, benar! Air terjun buatan di dalam sebuah ruangan kaca raksasa tertutup. Can’t you imagine, Hijabellove? Selanjutnya kamu bisa mengikuti alur yang disediakan naik ke puncak air terjun yang nuansanya dibuat seolah-olah sedang berada di dalam hutan belantara yang penuh semak belukar. Sungguh artistik.

Flower Dome Singapore

Flower Dome Singapore

Koleksi bunga di Flower Dome Singapore

Koleksi bunga di Flower Dome Singapore

Mau yang agak menantang? Cobalah naik ke Supertree di Bay South yang berbentuk kebun vertikal setinggi 16 lantai dan berjalanlah di jembatan gantung dari satu Supertree ke Supertree yang lain. Kerennya lagi, ternyata Supertree ini didesain mampu menampung air hujan, menghasilkan solar cell, dan jadi saluran irigasi untuk konservatori di sekitarnya lho. Itu teknologi yang mengesankan.

TIPS :

  1. Garden by the Bay bisa ditempuh dari pusat kota di area Marina Bay cuma dengan jalan kaki lima menit saja.
  2. Pastikan kamu punya peta atau jika ingin praktis ikut aja audible tour melihat seluruh area secara singkat yang disediakan disana dengan membayar 8 dollar SGD per orang.
  3. Kamu bisa beli tiket masuk Flower Dome dan Cloud Forest melalui voucher atau deal yang ada di website jika ingin mendapat harga lebih murah.

 

Universal Studio Singapore

Nah, yang satu ini mungkin ga asing ya didengar. Disingkat USS, merupakan sebuah komplek wahana wisata yang lokasinya di Sentosa Island. Ini adalah Studio Theme Park terbesar kedua setelah Hong Kong yang katanya luasnya sekitar 20 hektar (buat perbandingan, Dufan Ancol aja cum 9,5 hektar). Yah, seharian kayaknya kurang deh muterin semua tempat disini. Ada tujuh zona dengan tema yang unik dan berbeda-beda dan pastinya bikin kamu ga berhenti untuk mengabadikan momen alias foto-foto.

Zona Hollywood, New York, Sci-Fi City, Mesir Kuno, The Lost Word, Far Far Away, dan Madagascar. Yang asik di zona Hollywood sering muncul karakter film seperti Kungfu Panda, Woody Woodpecker, Marylin Monroe, dll. Di Zona New York lengkap kita disuguhi replika miniature landmark-nya seperti perpustakaan kota New York, trademark city skyline dan neon light. Di Zona Sci-Fi ada dueling roller coaster yang katanya tertinggi di dunia lho dan setting temanya adalah Battlestar Galatica. Kalau di Zona Ancient Egypt ada atraksi Revenge of the Mummy yang bisa menjelajahi lorong dengan kendaraan berkecepatan tinggi dengan suasana pengejaran prajurit mumi yang menyerang. Zona Far Far Away terinpirasi dari DreamWorks kisah Shrek dengan istananya yang seperti di film-film. Zona Madagascar berlatar belakang hutan tropis yang rimbun lengkap dengan hewan-hewannya.

 

TIPS :

  1. Menuju Sentosa Island ini mudah, tinggal naik MRT menuju
  2. Beli tiket di website biasanya lebih murah sampai 7-8 dollar SGD, sangat membantu mengurangi budget lho, sering-sering cek promo ya, hehe.
  3. Jangan kelewatan foto di depan globe raksasa di depan entrance gate dan kunjungi juga canylicious sebelum masuk.
  4. Makan dulu sebelum masuk wahana lebih baik lho, karena kamu akan butuh banyak energi untuk mengarungi seluruh wahana, ada foodcourt yang menjual makanan halal di depan USS.

The Fault in Our Stars

Best-Quotes-From-Fault-Our-Stars

Fault_In_Our_Stars_constellation_quote

fault-in-our-stars-quotes-privilege

 

TFIOSstill6

Screen-Shot-2014-04-29-at-10.44.42-AM

 

Image

Kritik Pariwisata Indonesia : Case Study Singapore Flower Dome & Cloud Forest

Untuk negara Asia yang mengalami banyak perkembangan dan bisa dikatakan maju, Singapura bisa dikatakan role model dalam beberapa hal.

Salah satunya adalah pariwisata.

Pemerintahnya berupaya membuat negara yang minim sumber daya alam ini menjadi destinasi wisata buatan yang cukup disorot dunia.

Wisata buatan? Betapa tidak!

Gardens by the Bay salah satu bukti nyatanya.

Jika pernah mendengar istilah Nature Meets Technology, yaps, itulah Singapura.

Masuklah ke Garden by the Bay ini dan jejakkan kaki ke Flower Dome dan Cloud Forest-nya.

Bukankah itu rekayasa?

Tidak benar-benar alami.

Bunga-bunga cantik dari berbagai belahan dunia dikumpulkan dan di tanam di dalam sebuah rumah kaca besar dan menjadi apik karena tertata di tangan arsitektur botani ahli, sehingga boom! Jadilah Flower Dome.

the multifunction Shawl by All Scarf

Gardens by the Bay (the multifunction Shawl by All Scarf )

Seorang rekan kerja saat mengunjungi Cloud Forest berkata “Segitunya ya Singapura pengen punya hutan, sampai harus membuat hal ini?”.

Ini menggelitik.

Cloud Forest simbol kritik atas global warming yang terjadi di dunia saat ini.

Air terjun dibuat dalam ruang tertutup di sebuah rumah kaca besar dan luas lengkap dengan nuansa hutan belantaranya.

Mungkin saat global warming berada pada ambang batasnya, kita akan dapat melihat hutan, air terjun, sungai, taman, bunga, dan tanaman lainnya dengan cara seperti ini?

Tidak kah itu membuat kita, warga Indonesia, serasa takjub sekaligus miris?

muncullah banyak pertanyaan semacam “Bagaimana cara maintenance-nya? Berapa biaya yang sudah dikeluarkan untuk investasi seperti ini? Terknologi seperti apa yang diterapkan? Apakah ini hanya sekedar fungsi pariwisata? Atau ambisi para pembesarnya?”

Flower Dome~Cloud Forest (Top by Inspirasi Cantik)

Flower Dome~Cloud Forest
(Top by Inspirasi Cantik)

Bisa diakui dong, Singapura memang kecil, hanya 710km2, bahkan luasnya tidak sebesar Jakarta,  ibukota negara kita, namun dua wilayah ini punya aura yag sangat berbeda.

Setiap gedung yang ada di Singapura adalah mono. Berdiri tegak vertikal! (bukan memanjang horizontal)

Jelas, tujuannya adalah mengefektifkan lahan sehingga mereka bisa punya ruang terbuka hijau yang lebih banyak.

Indonesia.

Tidak perlu repot mengumpulkan banyak jenis tanaman dari berbagai negara karena ratusan jumlah varietas tanamannya.

Tidak perlu susah menanam dan merawat karena bunga-bunga, tanaman, hewan, air terjun, hutan, dan sumber daya alam lainnya telah ada, tumbuh dan indah dengan sendirinya di tanah yang subur.

Yang perlu dilakukan adalah  membuat itu semua tetap indah dan bermanfaat.

Masih butuhkah didatangkan ahli botanical atau arsitektural dari belahan dunia lain untuk menyulap sumber daya alam kita menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar “pariwisata”?

Harusnya ini surga!

Surga dunia.

Sehingga saat semua orang yang datang ke negara ini haruslah berdecak kagum bahkan sampai tidak ingin kembali ke negara asalnya karena Indonesia kaya raya.

Yah itu cita-cita, dan wajib diamini.

Anyway, I love you, Indonesia 🙂

Flower Dome and Cloud Forest. Nature meets technology! (Shoes by Kaniwa)

Flower Dome and Cloud Forest. Nature meets technology!
(Shoes by Kaniwa)

Image

Greetings from Singapore

 

Alhamdulillah, di usia Hijabella yang baru satu tahun ini ternyata banyak juga Hijabellove alias pembaca yang berasal dari luar negeri. Kali ini saya berkesempatan bertemu dengan Hijabellove yang ada di Singapura.

Awalnya, manajemen memang sudah sering mendapat email dan tanggapan positif di berbagai sosial media dari pembaca di Turki, Maroko, Malaysia, Singapura, London, Australia, bahkan Amerika. Ada yang berniat jadi kontributor, memberikan support kepada crew, bahkan banyak pula yang pengen jadi model di Hijabella, hehe. Dari sekian email masuk, mayoritas mengungkapkan niat untuk mendapatkan majalah Hijabella secara fisik (ga cuma pdf) lengkap dari edisi pertama walaupun harga majalah sama shipping cost alias biaya kirimnya lebih mahal biaya kirimnya, hihihi. Akhirnya, kami pun mengirimkan bundel paket majalah ke negara-negara tersebut. Rasanya? Tentu bangga dan bahagia karena majalah ini bisa mencuri perhatian dan sampai ke tangan pembacanya di berbagai belahan dunia.

Email dari beberapa pembaca di Singapura yang bertanya bagaimana cara mendapatkan majalah ini pas sekali masuk seminggu sebelum crew Hijabella mengunjungi negara tersebut. Akhirnya kami janjian nih bertemu dengan mereka di Gardens by the Bay, Singapura. Dengan membawa sepaket majalah (yang menghabiskan setengah kuota bagasi :p ), kami puas sekali melihat mereka bahagia mendapatkan majalah idamannya. Antusias sekali mereka langsung membuka beberapa plastic wrap majalahnya dan membaca sekilas isinya sambil ngobrol-ngobrol. Mereka pun bercerita tentang bagaimana pertama kali tahu dan jatuh cinta dengan Hijabella serta perjuangannya ke Indonesia atau titip beli jika ada teman-temannya berkunjung ke Indonesia. Salut! 😀

 

with Hijabellove Singapore

me with Hijabellove Singapore (Sania, Fura, Me, Nadiah)

 

Ga berhenti di edisi 11 saja, mereka juga memutuskan langganan setiap edisi selanjutnya. Good news-nya lagi, mereka ada yang berasal dari komunitas Soul Sisters Singapore (semacam Hijabers Community di Indonesia) dan berniat baik menjembatani Hijabella untuk hadir dan launching di Singapura. InshaALLAH ya, semoga niat dan tujuan Hijabella jadi go international bisa terwujud, amin ya robbal alamin 🙂

 

Wardah Cosmetics supporting our meeting

Wardah Cosmetics supporting our meeting

And, sssttt, this nice and cute girl named Umaira, one of Hijabella’s lover from Singapore, will be on our Young Hijabi feature next edition (12th edition) 😀

Hijabellove from Singapore

Young Hijabellove from Singapore

Image

We Love Indonesia : Thousand Island

Hijabella Magazine 11th Edition

 

Hi, dear Hijabellove. Ada yang abis Ujian Nasional? Semoga semua lulus dengan hasil yang memuaskan ya, amin 🙂 Nah, pasti lagi libur dong sekarang dan biasanya udah banyak destinasi liburan yang sudah kamu susun biar ga suntuk di rumah ya. Eits, ada yang belum punya vacation planning? Serius? Oke, yuk ke Kepulauan Seribu aja.

Cinema XXI & 21 Februari Maret #3

Jadi, kali ini tim Hijabella diajak liburan menelusuri Kepulauan Seribu nih oleh tim pengenliburan.com. Ga perlu mikir ribet lagi deh karena semua vacation planning bisa dibantu sama mereka, asik kan? Nah, buat yang di Jakarta tapi belum ke Kepulauan Seribu kayaknya rugi banget, ya. Letaknya kan ga jauh nih dari Jakarta dan tourism destination-nya kelas dunia lho. Buat kamu yang butuh semacam sweet escape dari kepenatan kota Jakarta juga oke, weekend trip is the best option. Cukup 2 hari 1 malam saja dan kamu akan pulang dari Kepulauan Seribu dengan seribu semangat baru. Penasaran? Lets check this out, babes.

 pantaipmacan

Saturday, 5am

Begitu banyak pulau di rangkaian Kepulauan Seribu, namun yang sudah dihuni baru beberapa. Saya berkesempatan datang ke Pulau Harapan untuk menginap. Ada dua pilihan untuk menuju Pulau Harapan, dengan boat cepat dari Ancol atau kapal besar dari Muara Angke. We travel with the second one. Dari pukul 5 subuh kita sudah harus stand by di kapal, ini jika kita ingin dapat tempat duduk yang cukup nyaman, karena biasanya overload penumpang. Perjalanan menyusuri laut memang asyik, tapi jangan lupa bawa obat anti mabuk laut ya untuk jaga-jaga.

 

Saturday, 11am, Harapan Island

Yeay, setelah hampir 4 jam, akhirnya sampai dan langsung menuju homestay untuk lunch dan prepare snorkeling. Satu homestay terdiri dari 10 orang gabungan dari beberapa travel lain, inilah salah satu enaknya travelling, jadi punya kenalan dan temen baru deh. Beberapa saat kemudian kami dijemput oleh tour guide mengarah ke kapal yang akan membawa kami mencari spot snorkeling yang keren. Destinasi pertama adalah Pulau Kayu Angin.

Pulau Macan

Saturday, 1pm, Kayu Angin Island

Selama perjanan sekitar 15 menit kami di briefing oleh guide bagaimana cara memakai alat snorkeling yang aman. Lebih baik lagi kalau kita punya alat snorkeling sendiri sih, Hijabellove. Selain lebih aman, kita juga tidak akan sharing mouth to mouth dengan orang lain. Bagi beberapa orang yang ikut, ternyata ini adalah kali pertama mereka snorkeling bahkan ada yang mengaku tidak bisa berenang. Nah, ini dia enaknya snorkeling, buat Hijabellove yang ga bisa renang ga usah khawatir, kita pakai pelampung kok jadi ga bakal tenggelam deh. Beda dengan diving yang memang sudah harus jago berenang. Ups, satu lagi, buat kamu para girlies yang ga mau pulang snorkeling jadi menghitam lebih baik prepare sunblock yang water resistant dengan SPF lebih dari 50 ya, hehe.

Kapal berhenti agak jauh dari dermaga pulau. Kami tidak turun ke daratan tapi langsung lompat dari kapal untuk memulai ‘penelusuran’ bawah laut. Hijabellove tau apa yang saya rasakan saat putaran pertama snorkeling? Rasanya bikin nagih! Ga berhenti rasanya dalam hati berucap syukur karena diberi kesempatan untuk melihat ciptaan Allah yang begitu indah ini. Akuarium alam yang ‘sengaja’ ditata apik oleh Tuhan untuk manusia. Mungkin itu perumpamaan yang pas. Bagaimana tidak, air laut yang jernih seakan jadi kaca untuk melihat langsung ke dasar laut yang dipenuhi terumbu karang nan indah dan bayangkan saat berenang kita dikelilingi oleh ikan-ikan kecil bewarna-warni seperti di film kartun atau national geographic, hehe. Ikan nemo seperti di film Finding Nemo? Ada! Tapi susah sekali buat dipegang nih, berulang kali nyoba nangkep satu ikan untuk sekedar disentuh aja susah setengah mati, hehe J

snorkeling1

Saturday, 3pm, Macan Island

Tidak berhenti di satu pulau saja, kami diajak menjajal keindahan bawah laut di pulau lainnya. Kali ini Pulau Macan. Di destinasi snorkeling kali ini kami lebih fokus untuk mengabadikan momen alias foto-foto. Sang tour guide telah siap dengan kamera anti airnya dan kami pun ngantri deh untuk foto, hehe. Tour guide kami handal, hasil bidikan kameranya cukup bagus, dan yang penting dia menjaga keselamatan dan keamanan kami selama snorkeling, terutama untuk yang ga bisa renang. Saat snorkeling di pulau ini, saya sempat melihat bintang laut biru lho. Bintang laut ini bukti bahwa tingkat pencemaran laut di Kepulauan Seribu masih tergolong rendah karena bintang laut ini bisa mati jika air laut sudah tercemar. Semacam indikator alami. Beberapa putaran mengelilingi laut di sekitar pulau ini saja rasanya tidak cukup, tiba-tiba waktu sudah menunjukkan pukul 4.30 sore yang berarti sudah hampir 3,5 jam saya snorkeling.

Bintang laut biru

 

Saturday, 5pm, Bira Island

Setelah berjam-jam kami menikmati keindahan laut, capek dong pasti, guide kami mengarahkan kapal menuju Bira Island dimana kita bisa beli sesuatu untuk dimakan dan diminum. Setelah tenaga terisi kembali, kami sempat memutari pulau yang tidak terlalu besar ini dengan berjalan kaki sambil sesekali foto-foto. Pasirnya putih dan sangat halus, beda dengan pasir di pantai Jakarta ya, hihihi. Sepanjang mata memandang adalah hamparan laut bewarna biru bening yang indah sekali, cocok untuk refreshing.

Pulau Bira

Saturday, 6pm, Perak Island

Kapal melaju menuju satu lagi destinasi pulau hari ini yakni Pulau Perak. Disini kami menghabiskan waktu untuk menikmati sunset. Kami duduk di pasir dekat bibir pantai dan menenggelamkan kaki kami sedikit ke air laut. Rasanya nyaman sekali. Warna jingga yang bercampur keunguan mulai terlihat di tempat matahari mulai tenggelam. Lengkap sudah perjalanan hari ini. Sungguh indah kuasa Allah ya, Hijabellove J

Snorkeling Pulau Kayu Angin

Saturday, 8pm, Barbeque Time

Setelah kembali ke homestay dan bersih-bersih diri, kami makan malam. Ada waktu sejenak saya pilih untuk berjalan-jalan memutari pulau ini bersama beberapa teman. Kembali ke homestay, acara dilanjut dengan barbeque yang sudah disediakan oleh guide kami. Ikan yang dibakar namanya ikan cakalang dan ukurannya jumbo. Sambil ngobrol dan bermain alat musik seadanya kami menikmati penghujung malam dengan keakraban dan kehangatan.

 

Sunday, 7am, Kelapa Dua Island

Hari ini agendanya melihat konservasi penyu di Pulau Kelapa Dua. Setelah sarapan, kami naik kapal sekitar 15 menit dan sampailah kami di tempat panangkaran penyu sisik tersebut. Penyu yang besar boleh dipegang jadilah dia sasaran untuk foto-foto kami, hehe.

pulau harapan

Sunday, 9am, Banana Boat Time

Kembali dari Pulau Kelapa Dua, kami memilih untuk bermain Banana Boat. Alhamdulillah, saya mendapat teman-teman baru yang asyik jadi kami bisa seru-seruan bareng. Kami berlima yang naik banana boat bisa teriak-teriak, entah itu melepas beban pikiran atau karena takut dilempar ke laut, hehe. Ketika banana boat ditarik oleh kapal dan mulai oleng ke kiri dan ke kanan, kami sudah jejeritan dan adrenalin segera naik. Dan puncaknya adalah ketika akhirnya kami berlima sengaja dijatuhkan ke laut secara tiba-tiba. Itu pengalaman seru dan bikin nagih lho, Hijabellove. Penutup liburan yang menyenangkan.

Banana Boat

Sunday, 12pm, Back to Jakarta

Setelah basah-basahan bermain banana boat, kami kembali ke homestay dan bersih-bersih diri untuk bersiap pulang. Kapal kami berangkat pukul 12 siang kembali ke Jakarta. Perjalanan kurang lebih 3 jam dan air laut cukup besar sehingga kami sering terkena cipratan air laut. Kembali ke Jakarta pikiran sudah fresh dan siap untuk kegiatan sehari-hari lagi. Jadi, tidak ada alasan untuk liburan keluar negeri kalau ibukota Indonesia saja punya destinasi seindah ini, we love Indonesia, don’t we? 🙂

 

Hijabellove bisa baca artikelnya di Hijabella Magazine edisi 11 Tahun 2014 cover Dina Tokio ya 🙂

Hijabella Magazine Edisi 11 tahun 2014

We Love Indonesia : Pandawa Beach & Padang – Padang Beach, Bali

 

We Love Indonesia Edisi 10

We Love Indonesia Edisi 10

 

We Love Indonesia Edisi 10 Hijabella Magazine

We Love Indonesia Edisi 10 Hijabella Magazine

 

Pantai sudah jadi andalan ya buat wisata di negara kepulauan seperti Indonesia. Lalu setelah dengar kata Bali, pantai apa coba yang terpikirkan? Kuta, Sanur, Nusa Dua, Tanjung Benoa, Dreamland, dan masih banyak lagi. Wah, saking banyaknya predikat surga pantai memang layak disandang sama pulai dewata ini. Nah, sekarang, tim Hijabella mau ajak Hijabellove buat main-main nih ke pantai yang ada di Bali. Eits, tapi bukan pantai yang udah disebutin sebelumnya. Kali ini, biar lebih kagum lagi sama Indonesia, yuk sedikit kita agak mbolang ke pantai yang masih jarang terjamah wisatawan.

Beberapa waktu lalu, tim Hijabella penasaran sama yang namanya Pantai Padang-Padang dan Pantai Pandawa. Jarang denger kan kita sebelumnya? Bosan dong kalau Kuta lagi sanur lagi kan? Hehe. Setelah browsing sesaat sebelum menuju lokasi, terbayang sudah keindahan dua pantai ini yang luar biasa. Akhirnya, perjalanan pertama dimulai ke arah Pantai Pandawa. Kita harus menuju Desa Kutuh namanya, di Kuta Selatan, Kabupaten Badung dan kurang lebih satu jam perjalanan dari Bandara Ngurah Rai. Kurang lebih 3 km dari Nusa Dua dan Uluwatu. Buat kamu yang ga pake jasa travel, akses tercepat bisa lewat Jalur Jimbaran atau Universitas Udayana, tepatnya melalui Fakultas Teknik. Lebih baik, sewa kendaraan seperti motor atau mobil karena transportasi umum di Bali susah, Hijabellove.

Pantai-Pandawa2

Letak Pantai Pandawa memang sembunyi di balik perbukitan yang penuh semak belukar, apalagi dulu kata warga sekitar jalan menuju pantai ini rusak hingga susah ditempuh kendaraan, semakin sulitlah wisatawan berkunjung kesana. Publikasi adanya pantai ini juga minim. Oleh karena itu, Pantai ini dijuluki Secret Beach. Tetapi sekarang sudah jauh berkembang. Memasuki area pantai, kita disambut dulu oleh dua tebing yang begitu besar membelah jalan menuju laut. Pemerintah setempat justru memanfaatkan dinding tebing untuk jadi daya tarik dengan banyaknya ukiran yg terpahat disana dan di beberapa titik justru tebing itu disulap menjadi patung Pandawa Lima. Sungguh artistik dan berhasil membuat kami yang lewat jadi terbelalak.

Pantai Pandawa

Tiket masuknya cuma 2000 rupiah dan kita sudah bisa dapetin surga pantai yang sangat mempesona. Terkagum-kagum saat melihat pantainya? Jelas! Ketika memandang lautnya yang sungguh sangat biru dan pasirnya yang putih dan lembut membuat mata kami seolah tak ingin berkedip. Suasananya masih sepi dan tenang, cocok untuk refreshing.

Pantai-Pandawa1

Dari arah masuk, jalur sebelah kiri bisa dipakai untuk berjemur atau bermain air sedangkan jalur sebaliknya biasa digunakan untuk berolahraga air seperti kano atau parasailing. Kami kemarin menyewa kano untuk memutari pesisir pantai dan sewanya cuma 15.000 ditambah baju pelampung sebesar 10.000 rupiah saja. Lebih baik sih pakai pelampung ya, karena angin disini kenceng banget dan ombaknya juga besar. Kami kemarin datang ke sini agak sorean, jadi kita sempet nemuin para nelayan yang mengumpulkan rumput laut untuk diolah jadi cemilan. Sekalian aja kami menikmati sunrise karena posisi pantainya pas berada di timur. Kalau udah laper, langsung menuju foodcourt aja di area atas, jadi kami mengisi perut sambil menikmati hamparan laut yang luas bagai permadani. Subhanallah!

di pantai pandawa

Destinasi kedua tidak kalah menarik nih, Hijabellove. Pantai Padang-Padang. Lokasinya di Jalan Labuan Sait, Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung. Masih satu wilayah dengan Pantai Pandawa. Dulu sih sekitar tahun 1996, katanya grup band Michael Learns to Rock sempat syuting video klip mereka disini loh. Lalu, film si cantik Julia Roberts yg berjudul “Eat, Pray, Love” juga berlokasi disini.

Pantai-Padang-Padang2

Kalau Pantai Pandawa dikelilingi tebing yang terukir, disini tebingnya berupa batu karang yang kokoh. Menuju pantainya saja perlu ekstra tenaga karena kami harus lewat celah tebing karang yang cuma muat untuk satu orang sambil menuruni anak tangga yang lumayan banyak. Nah, kalau ada yang tak sengaja berpapasan, jalannya jadi harus saling memiringkan badan, hehe.

pantaipadang1

Melihat pantai ini membuat kami terus mengucap pujian untuk Allah SWT, Mahasuci Allah yang sudah menciptakan keindahan yang luar biasa. Warna lautnya jernih biru kehijauan dan pasirnya yang bersih putih nan lembut. Betah deh berlama-lama disini. Apalagi terumbu karang disini bagus, Hijabellove, kami bisa lihat di sekitar bibir pantai karena airnya masih sangat jernih. Berenang, berjemur, surfing, main air, main pasir, semua boleh kok disini. Tapi, kalau kami sih lebih asyik foto-foto pastinya, hehe.

di lorong pantai padang2

Hijab Tutorial – Tartatian Style

Majalah Modis Edisi 143 -Desember 2013

Majalah Modis Edisi 143 -Desember 2013

 

Memadukan Cardigan dengan sweater dapat menjadi pilihan saat kamu berlibur di wilayah yang lebih dingin, misalnya di pegunungan atau dataran tinggi.

Padukan dengan hijab trendi yang pastinya bikin penampilan kamu lebih oke 🙂

Tutorial :

1. Kenakan inner ninja sebagai dasar jilbab

2. Lipat jilbab segiempat jadi segitiga

3. Ambil sisi kiri segitiga, pakai secara asimetris di salah satu sisi jilbab lalu sematkan jarum pentul

4. SIlang sisi jilbab yang terjuntai di belakang tengkuk

5. Ambil bagian yang panjang dari salh satu sisi, lalu lebarkan

6. Letakkan bagian yang panjang menyilang ke atas kepala

7. Putar sampai habis ke belakang, rapikan dengan jarum, dan biarkan yg lain terjuntai ke depan

 

 

 

Hijabella Magazine Edisi 7 -We Love Indonesia Feature

Tak terasa HIjabella Magz sudah terbit edisi ketujuh. 

Memang belum lama, masih bayi, kurang lebih tujuh bulan umurnya, tapi aku cinta bekerja bersama mereka yang mencintai HIjabella.

Dream team sekali mereka dengan segala kekurangan dan kelebihannya. 

Tulisan We Love Indonesia kali ini terinpirasi dari kota Surabaya yang taman kotanya berhasil mendapatkan penghargaan sebagai Taman Kote terbaik se-Asia.

Obyektif saja, walaupun memang aku asli arek Suroboyo, bukan berarti kota ini kutulis berlebihan di sini, hehe.

Tujuannya hanya agar kita mencintai dan lebih lagi mencintai Indonesia 🙂

Hijabella Magazine - We Love Indonesia versi Surabaya

Hijabella Magazine – We Love Indonesia versi Surabaya

 

Hijabella Magazine - We Love Indonesia versi Surabaya1

Hijabella Magazine – We Love Indonesia versi Surabaya1